Hampir setahun yang lalu, tidak banyak orang yang mengenal pasangan suami istri Özlem Türeci dan Ugur Sahin. Setelah mendirikan perusahaan bioteknologi kecil bernama BioNTech pada tahun 2008, mereka berfokus pada penelitian kanker.
Namun, munculnya pandemi Virus Corona membuat mereka mengembangkan vaksin COVID-19. Hingga saat ini, kemampuan mereka telah menyelamatkan nyawa jutaan orang di seluruh dunia.
Kehormatan tertinggi Jerman
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mempersembahkan medali Salib Komandan Ksatria kepada Sahin dan Türeci pada hari Jumat, 19 Maret 2021.
"Mereka merasa terhormat bisa berkontribusi dalam merespon pandemi Virus Corona," kata pernyataan resmi Kantor Kepresidenan Jerman pada awal Maret lalu.
The Knight Commander's Cross adalah bagian dari Order of Merit Republik Federal Jerman, yang dibentuk pada tahun 1951 oleh Theodor Heuss, Presiden Pertama Jerman Pasca-Perang Dunia II.
Pemberian penghargaan dimaksudkan untuk "secara tegas mengungkapkan pengakuan dan rasa terima kasih kepada pria dan wanita yang layak dari rakyat Jerman dan negara-negara asing."
Di antara penerima penghargaan tertinggi yang diberikan Jerman, Anda akan menemukan tokoh-tokoh asing seperti Ratu Inggris, Elizabeth II, dan mantan Presiden Amerika Serikat (AS), George Walker Bush.
Mengalihkan fokus untuk menyelamatkan dunia
Menurut Kantor Kepresidenan Jerman, pasangan suami istri Ugur Sahin dan Özlem Türeci, juga menerima penghargaan untuk "penelitian pendahulu dan yang diakui secara global" di bidang teknologi mRNA.
Terapi gen baru dalam pengembangan vaksin menggunakan sebagian kecil dari informasi genetik virus untuk memicu respons imun dengan memproduksi protein secara langsung di dalam sel manusia.
Sebelum melakukan penelitian tentang COVID-19, Sahin dan Türeci telah mencoba memanfaatkan kemampuan tubuh manusia untuk mempertahankan diri dari bakteri dan virus.
Mereka mencoba melawan kanker dengan imunoterapi yang merangsang mekanisme penyembuhan diri dan memicu "kekuatan internal" tubuh untuk menjinakkan tumor ganas.
Latar belakang Sahin dan Türeci dalam penelitian mRNA memungkinkan mereka mengembangkan vaksin BioNTech dengan mitra AS Pfizer dalam kurun waktu yang sangat singkat, yaitu kurang dari setahun, menjadikannya vaksin COVID-19 pertama, setelah persetujuan AS untuk penggunaan darurat dikeluarkan pada November 2020..
Pada akhir tahun lalu, Sahin mengatakan kepada DW bahwa dirinya tidak merasa seperti "pahlawan super" dalam penelitian vaksin.
"Kami hanya dapat melakukan ini karena kami memiliki tim yang fantastis. Tim ilmuwan dan staf internasional dari 60 negara berbeda telah bekerja dengan kami selama bertahun-tahun mengenai topik ini (penelitian mRNA)," katanya.
Situs Bolatangkas Online | Agen Bolatangkas Online | Judi Bolatangkas Terpercaya | Sewu Tangkas


0 Comments