Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Presiden Biden Dengan Keras Tolak Semua Kritik Terkait Penarikan Militer AS di Afghanistan

 

Sumber foto: AP


Sewu Tangkas - Presiden AS Joe Biden, dengan keras menolak semua kritik yang ditujukan kepadanya mengenai penarikan militer AS dari Afghanistan. Taliban, yang menguasai kota Kabul dan sebagian besar Afghanistan, kini resmi menjadi pemenang perang terpanjang dalam sejarah AS.


“Saya tidak akan memperpanjang perang "abadi" ini. Saya juga tidak akan memperpanjang penarikan abadi itu," kata Biden dari Gedung Putih, Rabu (31/8/2021).


Dikutip dari Reuters, kepergian prajurit AS terakhir dari Afghanistan dalam kepresidenan Joe Biden adalah momen penting bagi Amerika Serikat karena Biden telah lama ingin mengakhiri perang yang ia sebut sebagai "perang abadi".


Berakhirnya konflik 20 tahun diakui oleh Presiden Biden sebagai babak baru bagi pemerintahannya dan Amerika Serikat. Di sisi lain, tingkat kepuasan Joe Biden di kalangan publik AS telah turun drastis berkat keputusannya untuk melanjutkan penarikannya dari Afghanistan.


Masih ada lebih dari 100 warga AS yang tersisa di Afghanistan


AS mengevakuasi lebih dari 120.000 orang keluar dari Afghanistan melalui Bandara Kabul. Operasi tersebut merupakan salah satu evakuasi non-tempur terbesar yang pernah dilakukan militer AS. Namun, tidak semua berjalan sesuai rencana karena meninggalkan ratusan warga AS di Afghanistan.


Setidaknya lebih dari 100 orang Amerika tidak dievakuasi karena mereka meragukan kemampuan mereka untuk meninggalkan Afghanistan, kata AP. Menurut Presiden Joe Biden, setidaknya 90 persen warganya di Afghanistan telah berhasil dievakuasi dan sisanya memilih untuk tetap tinggal. Namun, Biden memastikan jika ingin dievakuasi, pemerintahnya siap mengungsi tanpa batas waktu.


Biden mengakui posisi Taliban sangat kuat sejak dia menjabat


Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah mengakui kekuatan Taliban yang sebenarnya. Diberitakan Reuters, Biden mengatakan posisi dan kekuatan Taliban sudah sangat kuat saat menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, yakni pada awal 2021.


Biden berargumen bahwa kekuatan Taliban adalah karena keputusan Presiden Donald Trump pada 2020. Saat itu, AS setuju untuk membebaskan 5.000 pejuang Taliban dari penjara di Afghanistan. Dia menekankan bahwa banyak komandan Taliban yang berpengalaman dibebaskan begitu saja dan akhirnya kembali untuk mengangkat senjata melawan militer Afghanistan.


Afghanistan bukan lagi national interest Amerika Serikat


Presiden Amerika Serikat ke-46, Joe Biden, sebenarnya tidak ingin melanjutkan konflik di Afghanistan. Dia menekankan bahwa AS seharusnya tidak lagi memperpanjang operasinya di Afghanistan hingga dekade ketiga.


Dilansir AP, Joe Biden menekankan bahwa kepentingan nasional AS tidak lagi didasarkan pada Afghanistan. Menurutnya, masalah keamanan AS tidak dapat diselesaikan dengan terus mengirimkan ribuan tentara dan menghabiskan miliaran dolar di Afghanistan.


Tak hanya itu, Biden mengaku enggan melihat AS terus tenggelam di Afghanistan. Dia mengatakan, syarat baginya adalah keinginan Rusia dan China untuk menguasai wilayah sekitarnya.


Kini Afganistan benar-benar membuktikan negaranya sebagai “kuburan imperium”, tempat berakhirnya kekuasaan seperti berbagai imperium yang telah takluk di sana sepanjang sejarah.

Post a Comment

0 Comments